Waktu membaca 10 Menit

Order Book: Pengertian, Cara Membaca, dan Risikonya

Order book adalah daftar real-time order beli dan jual yang belum dieksekusi pada suatu instrumen. Data ini membantu trader membaca likuiditas, bid-ask spread, market depth, dan tekanan jangka pendek. Namun, order dapat berubah atau dibatalkan dengan cepat sehingga order book perlu digunakan bersama volume, transaksi aktual, dan manajemen risiko.

Order book adalah daftar real-time order beli dan jual yang belum dieksekusi pada suatu instrumen. Data ini membantu trader membaca likuiditas, bid-ask spread, market depth, dan tekanan jangka pendek. Namun, order dapat berubah atau dibatalkan dengan cepat sehingga order book perlu digunakan bersama volume, transaksi aktual, dan manajemen risiko.

Order book adalah daftar order beli dan jual yang masih menunggu eksekusi pada suatu instrumen keuangan, disusun berdasarkan tingkat harga. Melalui order book, trader dapat melihat harga yang sedang ditawarkan pembeli, harga yang diminta penjual, serta jumlah order yang tersedia pada masing-masing level.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi supply dan demand dalam jangka sangat pendek. Order book juga membantu trader menilai likuiditas, bid-ask spread, kedalaman pasar, dan kemungkinan dampak suatu order terhadap harga.

Namun, order book menunjukkan intensi, bukan transaksi yang pasti terjadi. Order dapat ditambah, diubah, atau dibatalkan dalam hitungan detik sehingga data yang terlihat perlu dibaca bersama transaksi aktual dan kondisi pasar yang lebih luas.

Poin Penting

  • Order book menampilkan order beli atau bid dan order jual atau ask yang belum dieksekusi.
  • Selisih antara best bid dan best ask disebut bid-ask spread.
  • Market depth menunjukkan seberapa banyak likuiditas tersedia pada berbagai tingkat harga.
  • Ketidakseimbangan bid dan ask dapat menunjukkan tekanan jangka pendek, tetapi bukan prediksi harga yang pasti.
  • Order besar dapat dibatalkan sebelum dieksekusi sehingga visible liquidity dapat berubah sangat cepat.
  • Slippage, partial fill, latency, dan biaya transaksi perlu diperhatikan ketika menggunakan order book untuk trading.

Apa Itu Order Book dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Order book merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mempertemukan pembeli dan penjual. Ketika seseorang memasang limit order, order tersebut dapat masuk ke dalam order book dan menunggu hingga terdapat pihak lain yang bersedia bertransaksi pada harga tersebut.

Misalnya terdapat pembeli yang bersedia membeli saham di Rp5.000 dan penjual yang bersedia menjual di Rp5.020. Kedua harga tersebut berada di sisi berbeda dari order book sampai salah satu pihak bersedia menerima harga lawannya.

Order book terus berubah selama pasar aktif. Order baru masuk, order lama dapat dibatalkan, ukuran order dapat berubah, dan volume akan berkurang ketika transaksi terjadi. Karena itu, order book bukan tabel statis. Kondisinya dapat berubah dalam waktu sangat singkat, khususnya pada instrumen dengan aktivitas trading tinggi.

Bid dan Ask

Bid adalah harga yang ditawarkan pembeli. Best bid merupakan harga beli tertinggi yang tersedia saat itu. Ask adalah harga yang diminta penjual. Best ask merupakan harga jual terendah yang tersedia.

Jika best bid berada di Rp5.000 dan best ask di Rp5.020, maka pembeli dan penjual belum sepakat pada satu harga yang sama.

Bid-Ask Spread

Selisih antara best ask dan best bid disebut bid-ask spread.

Dengan contoh sebelumnya:

Spread = Rp5.020 - Rp5.000 = Rp20

Spread yang sempit biasanya menunjukkan bahwa pembeli dan penjual memiliki harga yang relatif berdekatan. Kondisi ini sering ditemukan pada instrumen yang lebih likuid.

Spread yang lebar dapat menunjukkan likuiditas lebih rendah atau ketidakpastian yang lebih tinggi. Bagi trader aktif, spread menjadi penting karena merupakan salah satu bentuk friction dalam proses entry dan exit.

Mid-Price

Mid-price adalah titik tengah antara best bid dan best ask.

Rumus sederhananya:

Mid-Price = (Best Bid + Best Ask) ÷ 2

Jika bid berada di Rp5.000 dan ask Rp5.020, mid-price berada di Rp5.010.

Mid-price bukan berarti transaksi pasti dapat dilakukan pada harga tersebut. Angka ini lebih berguna sebagai referensi untuk melihat posisi harga relatif terhadap bid dan ask.

Tahukah Anda?
Order book menunjukkan order yang masih menunggu, bukan seluruh minat beli atau jual yang benar-benar ada di pasar. Sebagian order dapat disembunyikan, sementara order yang terlihat dapat dibatalkan sebelum sempat dieksekusi.

Cara Membaca Depth dan Likuiditas dalam Order Book

Selain best bid dan best ask, trader dapat melihat jumlah order yang tersedia pada beberapa tingkat harga. Informasi ini disebut market depth.

Semakin banyak volume tersedia pada berbagai tingkat harga, semakin dalam order book tersebut. Market dengan depth yang besar umumnya lebih mampu menyerap transaksi berukuran besar tanpa menggerakkan harga secara ekstrem. Sebaliknya, order book yang tipis membuat harga lebih sensitif terhadap masuknya market order.

Cumulative Depth

Cumulative depth menunjukkan akumulasi volume pada beberapa tingkat harga.

Misalnya sisi bid memiliki:

  • Rp5.000: 2.000 unit.
  • Rp4.990: 5.000 unit.
  • Rp4.980: 8.000 unit.

Secara kumulatif, terdapat 15.000 unit order beli pada tiga level tersebut.

Area dengan volume besar sering terlihat seperti liquidity wall. Namun, keberadaan wall tidak berarti harga pasti memantul dari level tersebut. Order dapat dibatalkan atau terkonsumsi oleh order yang lebih agresif.

Order Book Imbalance

Order book imbalance terjadi ketika jumlah order pada sisi bid jauh berbeda dari sisi ask. Misalnya terdapat 50.000 unit bid dekat harga pasar tetapi hanya 15.000 unit ask. Kondisi ini dapat menunjukkan tekanan beli yang lebih tinggi pada saat tersebut. Sebaliknya, ask yang jauh lebih besar dapat menunjukkan tekanan jual.

Masalahnya, imbalance dapat berubah sangat cepat. Satu market order berukuran besar dapat menghabiskan beberapa level sekaligus. Pelaku pasar juga dapat membatalkan order mereka sehingga kondisi yang terlihat beberapa detik sebelumnya tidak lagi relevan.

Karena itu, imbalance lebih tepat digunakan sebagai konteks tekanan jangka pendek, bukan sinyal beli atau jual yang berdiri sendiri.

Queue dan Replenishment

Trader juga dapat memperhatikan bagaimana antrean order berubah setelah transaksi terjadi. Jika volume di sisi bid terus terisi kembali setelah sejumlah order dieksekusi, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya minat beli yang relatif konsisten.

Sebaliknya, apabila bid besar tiba-tiba menghilang setelah harga mulai turun, likuiditas yang sebelumnya terlihat kuat ternyata tidak bertahan. Kecepatan order book kembali terisi setelah transaksi besar juga dapat memberikan gambaran mengenai resilience atau kemampuan pasar memulihkan likuiditas.

Order Book vs Transaksi Aktual

Order book dan transaksi yang sudah terjadi memberikan informasi berbeda. Order book menunjukkan apa yang ingin dilakukan pelaku pasar. Sementara itu, daftar transaksi atau trade tape menunjukkan apa yang benar-benar sudah terjadi.

Misalnya order book memperlihatkan ask besar di Rp5.100. Informasi tersebut menunjukkan terdapat minat jual pada level tersebut. Namun, jika transaksi terus terjadi di Rp5.100 dan volume ask tersebut mulai terserap, trader memperoleh informasi tambahan bahwa pembeli cukup agresif untuk mengambil supply yang tersedia.

Karena itu, order book sebaiknya tidak dianalisis secara terpisah. Trader dapat membandingkan:

  • Perubahan bid dan ask.
  • Volume transaksi aktual.
  • Arah harga.
  • Kecepatan order dieksekusi.
  • Perubahan depth.
  • Kondisi pasar dan berita terbaru.
Contoh
Order book menunjukkan 20.000 unit ask di Rp5.100 sehingga level tersebut terlihat seperti resistance jangka pendek. Namun, jika transaksi aktual terus terjadi di Rp5.100 dan seluruh order jual tersebut terserap, kondisi pasar sudah berubah. Visible sell wall saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa harga pasti gagal naik.

Bagaimana Jenis Order Memengaruhi Order Book?

Tidak semua order memiliki efek yang sama terhadap order book.

Limit Order

Limit order menentukan harga maksimum untuk membeli atau harga minimum untuk menjual. Order ini dapat berada di dalam order book dan menyediakan likuiditas sampai dieksekusi atau dibatalkan.

Karena itu, visible market depth sebagian besar terbentuk dari limit order.

Market Order

Market order bertujuan melakukan transaksi segera pada harga terbaik yang tersedia. Berbeda dari limit order, market order mengonsumsi likuiditas.

Jika ukuran market order lebih besar daripada volume pada best ask, order dapat terus mengambil harga berikutnya dalam order book. Kondisi inilah yang dapat menghasilkan slippage.

Hidden dan Iceberg Order

Tidak seluruh ukuran order selalu terlihat di order book. Iceberg order hanya menampilkan sebagian dari total volume. Ketika bagian yang terlihat dieksekusi, volume lain dapat muncul kembali.

Hidden order dapat tidak menampilkan volumenya sampai eksekusi terjadi. Akibatnya, trader perlu memahami bahwa visible depth tidak selalu sama dengan seluruh likuiditas yang tersedia.

Risiko Membaca Order Book

Order book dapat memberikan informasi yang berguna, tetapi juga memiliki keterbatasan yang signifikan.

Visible Liquidity Bisa Menghilang

Order besar yang terlihat pada suatu level dapat dibatalkan kapan saja sebelum terjadi eksekusi. Ketika volatilitas meningkat atau muncul berita baru, trader dapat menarik order dalam jumlah besar hanya dalam hitungan detik.

Akibatnya, depth yang terlihat kuat dapat menghilang ketika justru paling dibutuhkan. Inilah alasan order book tidak sebaiknya dianggap sebagai jaminan adanya support atau resistance.

Slippage

Slippage terjadi ketika harga eksekusi aktual berbeda dari harga yang diharapkan. Misalnya trader ingin membeli 10.000 unit, tetapi hanya tersedia 3.000 unit pada best ask.

Sisa order kemudian harus mengambil volume pada harga berikutnya sehingga average execution price menjadi lebih tinggi. Risiko ini meningkat ketika order book tipis atau ukuran transaksi terlalu besar dibanding volume yang tersedia.

Partial Fill

Order juga dapat hanya terisi sebagian. Jika trader memasang limit order sebesar 10.000 unit tetapi hanya 4.000 unit yang tersedia pada harga tersebut, sebagian posisi dapat dieksekusi sementara sisanya tetap menunggu.

Partial fill dapat membuat ukuran posisi akhir berbeda dari trading plan.

Latency

Order book merupakan data real-time, tetapi tetap terdapat waktu antara perubahan yang terjadi di bursa dan informasi yang muncul di layar trader. Perbedaan tersebut disebut latency.

Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, order yang masih terlihat di layar mungkin sebenarnya sudah dieksekusi atau dibatalkan. Perbedaan sumber data dan agregasi platform juga dapat membuat tampilan order book tidak identik antarplatform.

Order yang Menyesatkan

Trader juga perlu berhati-hati terhadap order besar yang muncul kemudian menghilang sebelum dieksekusi. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat menciptakan kesan supply atau demand yang sebenarnya tidak bertahan.

Praktik manipulatif seperti spoofing menggunakan order yang tidak benar-benar dimaksudkan untuk dieksekusi demi menciptakan persepsi pasar tertentu. Karena itu, satu order besar tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai bukti arah pasar.

Perhatian
Order book menunjukkan intensi pelaku pasar, bukan janji transaksi. Bid atau ask berukuran besar dapat berubah atau dibatalkan dalam hitungan detik. Jangan menggunakan satu liquidity wall atau imbalance sebagai satu-satunya dasar keputusan trading.

Cara Menggunakan Order Book secara Lebih Terstruktur

Order book lebih berguna ketika dipakai sebagai bagian dari proses analisis dan eksekusi, bukan sebagai alat prediksi tunggal.

1. Periksa Spread

Mulai dengan melihat selisih antara best bid dan ask. Spread yang sangat lebar dapat menandakan likuiditas rendah atau kondisi pasar yang sedang tidak stabil.

2. Lihat Depth di Sekitar Harga

Perhatikan volume pada beberapa level di atas dan bawah harga saat ini. Tujuannya bukan mencari wall terbesar, tetapi memahami seberapa mudah pasar dapat menyerap order beli atau jual.

3. Bandingkan Bid dan Ask

Imbalance dapat memberikan gambaran mengenai tekanan jangka pendek. Namun, lihat juga apakah volume tersebut bertahan atau terus berubah.

4. Perhatikan Transaksi Aktual

Bandingkan order book dengan trade tape atau transaksi yang benar-benar terjadi. Order yang terlihat kuat tetapi selalu dibatalkan memiliki arti berbeda dari order yang terus diserap oleh transaksi aktual.

5. Sesuaikan Ukuran Posisi

Jika market depth tipis, ukuran posisi yang terlalu besar dapat meningkatkan slippage dan market impact. Ukuran transaksi sebaiknya disesuaikan dengan likuiditas instrumen, bukan hanya dengan modal yang tersedia.

6. Tentukan Invalidation

Sebelum membuka posisi berdasarkan kondisi order book, tentukan apa yang membuat thesis tidak lagi berlaku.

Misalnya entry dilakukan karena terdapat bid yang terus direplenish. Jika bid tersebut kemudian hilang dan harga menembus level tersebut dengan volume besar, dasar awal posisi perlu dievaluasi kembali.

7. Jangan Abaikan Konteks

Order book dapat berubah drastis menjelang laporan keuangan, data ekonomi, berita perusahaan, atau ketika volatilitas meningkat.

Kondisi pasar, volume, price action, dan berita tetap perlu diperhatikan bersama data order book.

Kesimpulan

Order book adalah daftar real-time order beli dan jual yang membantu trader memahami likuiditas, bid-ask spread, market depth, dan tekanan supply-demand dalam jangka pendek.

Best bid menunjukkan harga tertinggi yang ditawarkan pembeli, sedangkan best ask menunjukkan harga jual terendah. Selisih keduanya membentuk spread, sementara volume pada berbagai level harga menggambarkan market depth.

Namun, order book memiliki keterbatasan. Visible liquidity dapat dibatalkan, hidden order tidak selalu terlihat, latency dapat membuat data terlambat, dan order besar belum tentu benar-benar dimaksudkan untuk dieksekusi.

Karena itu, order book sebaiknya digunakan bersama transaksi aktual, volume, price action, berita, dan manajemen risiko. Tujuannya bukan memprediksi setiap pergerakan harga, melainkan memahami kondisi likuiditas dan meningkatkan kualitas eksekusi ketika mengambil posisi.

FAQ

Order book adalah daftar order beli dan jual yang belum dieksekusi pada suatu instrumen keuangan, disusun berdasarkan tingkat harga. Data ini menunjukkan bid, ask, volume, dan market depth secara real time.

Bid adalah harga yang ditawarkan pembeli, sedangkan ask adalah harga yang diminta penjual. Selisih antara best bid dan best ask disebut bid-ask spread.

Order book depth menunjukkan jumlah order yang tersedia pada berbagai tingkat harga. Depth yang lebih besar umumnya menunjukkan likuiditas yang lebih tinggi dan potensi price impact yang lebih rendah.

Tidak secara pasti. Imbalance dapat menunjukkan tekanan beli atau jual jangka pendek, tetapi order dapat berubah, dibatalkan, atau dikalahkan oleh market order yang lebih besar. Analisis perlu dikombinasikan dengan transaksi aktual dan kondisi pasar.

Order dapat dibatalkan sebelum dieksekusi karena strategi trader berubah, kondisi pasar bergerak, atau karena berbagai alasan lain. Dalam beberapa kasus, pola pembatalan tertentu juga dapat berkaitan dengan perilaku manipulatif sehingga visible order tidak boleh dianggap sebagai jaminan likuiditas.

12 menit

Panduan Lengkap Istilah Trading dan Arti Pentingnya

13 menit

Bagaimana Cara Berinvestasi dalam Saham AI?

25 menit

Analisa Price Action: Cara Membaca Grafik Harga?

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.